Wednesday, June 13, 2007

Resensi "Oh, Baby Blues" di Gatra.Com

Link: http://gatra.com/artikel.php?id=105304

Resensi
Berbagi Pengalaman Mengatasi Baby Blues

Sampul buku Oh, Baby Blues (Dok mamieksyamil)Jakarta, 13 Juni 2007 18:40
Judul buku : Oh, Baby Blues
Penyusun : Mamiek Syamil dan Dina Sulaeman
Jumlah halaman: 125
Penerbit : Femmeline, Bandung, 2007

"Saya sudah menyusuinya sampai kenyang. Kemudian dia menangis karena mengompol. Lalu saya ganti popoknya. Belum lagi menukar baju saya yang basah kena ompol, tiba-tiba dia menangis lagi. Ngompol lagi! Saya letih dan sedih sekali. Apakah hidup saya hanya untuk mengurusi bayi? Padahal sebelumnya saya punya karier," kenang Sophie Navita, presenter di sejumlah televisi swasta nasional kepada Kompas.

Sementara itu sang suami, Pongki Jikustik, sedang konser di luar kota. "Dikelilingi gadis-gadis dengan tubuh segini," kata Sophie, sambil menunjukkan kelingkingnya. "Sementara, bobot dan bentuk tubuh saya belum kembali seperti dulu," keluhnya. Kesedihan dan kecemasan Sophie, saat mengurus anaknya yang baru lahir itu disebut sebagai baby blues. Berdasarkan penelitian, sindrom ini dialami 50 sampai 80 persen wanita yang baru melahirkan anak pertama mereka.

Sophie Navita tidak sendirian. Ada sejumlah ibu yang baru melahirkan mengalami hal serupa. Seperti kisah sejati 15 orang ibu dan seorang ayah Indonesia, yang tinggal di Tanah Air dan di luar negeri. Mereka menuangkannya dalam buku berjudul Oh, Baby Blues terbitan Femmeline, yang disusun Mamiek Syamil (tinggal di Arkansas, AS) dan Dina Sulaeman (Teheran, Iran).

Ke-15 ibu yang mengalami masa "naik-turun" dalam mengurus bayi, dan berbagi pengalamannya itu, masing-masing Mindasari P. Daniar, Ria R. Williams, Shanti Saptaning, Wiwit Wijayanti, Mamiek Syamil, Beby Haryanti Dewi, Sylvie Gill, Dinda Bestari, Lely S. Shim, Andi Sri Suriati Amal, Cahayahati, Meidya Derni, Ummu Annisa, Susi Dwiyani, dan Dina Sulaeman, serta seorang ayah, Otong Sulaeman --suami Dina.

Apa itu baby blues?

Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, dalam pengantar buku itu, menyebut ciri-ciri seseorang yang terkena sindrom baby blues. "Jika beberapa hari setelah melahirkan anda merasa ada perubahan emosi yang cepat, sebentar sedih dan tak lama kemudian senang, maka besar kemungkinan anda sedang mengalami apa yang sering disebut baby blues."

Keadaan itu, menurut Elly, normal terjadi pada ibu yang baru saja melahirkan, sebagai bagian dari tahap awal menjadi ibu. Namun Elly menambahkan, keadaan ini akan dialami selama tiga sampai empat hari setelah melahirkan, dan menghilang sekitar sepuluh hari kemudian.

Menurutnya, jika gejala yang dirasakan lebih parah dan bertahan untuk waktu yang lebih lama, itu berarti sudah memasuki gejala pospartum atau postnatal depression (depresi pasca-melahirkan).

Masalah berapa lama seseorang mengalami depresi pasca-melahirkan, kata Elly, kondisinya bisa berbeda-beda. Ada orang yang terbiasa mengatasi depresinya dalam beberapa minggu, ada pula yang hingga berbulan-bulan.

Untuk itu, diperlukan dukungan yang tulus dan penuh kesadaran, khususnya dari para suami, agar sesegera mungkin beban yang menghimpit para ibu muda itu lepas. Seperti dilakukan Otong Sulaeman, yang bekerja di IRIB seksi Radio Indonesia, Teheran, dalam tulisannya berjudul Kerikil Tajam di Awal Langkahku Sebagai Ayah. Otong, selain total mendampingi istrinya di hari-hari awal setelah ia melahirkan, juga berani mengambil keputusan drastis: melepaskan kuliah S2-nya, demi menyelamatkan sang anak.

"Dia butuh kasih sayang ibunya. Namun kini ibunya sedang dalam kondisi tertekan, sehingga belum bisa mengungkapkan kasih sayang itu," tulis Otong, yang meminta bantuan seorang psikolog untuk membantu memulihkan kondisi emosi istrinya itu.

Para ibu muda yang tangguh itu juga berbagi kiat mengatasi baby blues yang mereka alami, seperti kiat Wiwit Wijayanti, ibu satu anak yang tinggal di Yogyakarta, bahwa kelahiran bukan sebatas mempersiapkan biaya persalinan dan membeli barang-barang keperluan bayi saja. Guna membekali diri, para ibu disarankan menggali informasi tentang kehamilan dan kelahiran, sebanyak mungkin.

Selain itu, Dina Sulaeman, ibu dua anak yang tinggal di Teheran, Iran, menyarankan agar para ibu tak ragu untuk melepaskan semua uneg-uneg dan perasaan tak nyaman. "Tidak perlu ditahan dan dipendam. Keluarkan semua emosi (tangisan, amarah, atau apa pun) dengan cara yang sehat. Tariklah napas dalam-dalam sebelum melepas emosi," pesannya.

Dan terpenting, katanya, mengucapkan "alhamdulillah" atau rasa syukur sesering mungkin, untuk mengingatkan bahwa rasa sakit, perasaan tak karuan, dan kelelahan yang dialami ibu, semuanya tak ada artinya dibanding nikmat berupa karunia anak yang sehat dan lucu.

Buku yang dikemas dalam sampul menarik ini lengkap menampilkan berbagai pengalaman menghadapi sindrom baby blues dan depresi pasca-melahirkan. Kisah-kisah yang dibagi lewat buku ini bisa menjadi sarana pembelajaran, bukan saja bagi mereka yang akan atau baru melahirkan, melainkan juga bagi para suami, seluruh anggota keluarga, termasuk perempuan lajang yang kelak bakal melewati periode sebagai ibu. [Tian Arief]

Sunday, June 3, 2007

Insiden Upacara Bendera

Ditulis oleh Wiwit Wijayanti

Jumat, 25 Mei 2007

Upacara bendera selalu membawa ingatanku pada masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dulu. Apalagi tiap upacara bendera selalu saja ada insiden yang mengundang tawa dan cemooh peserta upacara. Entah itu bendera yang melintir, bendera tak tepat waktu sampai di ujung tiang, suara komandan upacara yang tercekik ataupun pembaca Pembukaan UUD '45 yang salah melafalkan naskahnya. Semua itu mengingatkanku pada insiden memalukan saat aku duduk di bangku kelas dua SMP dan menjadi petugas upacara bendera.

Sebagai salah satu anggota peleton inti (paskibra) sekolah, maka saat kelasku mendapat giliran bertugas dalam upacara bendera aku pun mendapat jatah tugas. Bersama kedua rekanku kami bertugas sebagai pengibar bendera. Sebelum upacara dimulai Sie Upacara OSIS memeriksa persiapan kami. Semua petugas sudah siap dengan seragam putih-putih dan kelengkapannya, bendera sudah dilipat dengan benar, teks Pancasila dan Pembukaan UUD '45 sudah siap. "Sip dah!" kata Sie Upacara. Ketika lewat di depanku, dia memperhatikan peciku "Ga dijepit pecinya Wit?" tanyanya sambil mengangsurkan jepit rambut hitam besar. Aku yang kaget karena disapa oleh cowok cakep kecengan cewek se-sekolah jadi gelagapan. "Ah..ga usah lah, biasanya juga begini ga apa-apa kok," jawabku dengan gaya penuh percaya diri. "Ya sudah…sukses ya!" kata Sie Upacara itu seraya tersenyum dan berjalan meninggalkan kami. Duuuh..tambah deg-degan rasanya disenyumi oleh cowok ganteng itu.

Upacara dimulai. Setelah inspektur dan para komandan menempati tempatnya masing-masing, giliran pengibar bendera untuk menjalankan tugas. Dengan langkah tegap kami bertiga berbaris menuju tiang bendera. Langkah kami lurus dan mantap. Semakin mantap lagi setelah berhasil mengaitkan bendera dan membukanya dengan sukses, tidak melintir. Aku yang bertugas memegang kendali tali bendera menarik tali seirama dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dikumandangkan oleh teman-teman sekelasku. Tanpa melihat sampai dimana naiknya bendera sebetulnya aku sudah tahu bahwa dengan kecepatan tarikanku bendera akan sampai di puncak tepat pada waktunya.

Tapi entah kenapa, saat itu aku ingin memastikan bahwa benderaku sudah sampai pada tempat yang tepat. Aku pun mendongakkan kepalaku sedikit. Wah, belum kelihatan. Sinar matahari yang mulai memanaskan bumi ikut andil membuat penglihatanku tidak jelas. Maka lebih ku dongakkan lagi kepalaku dan uuups! Peciku jatuh! Spontan tanganku bergerak untuk memegangi peciku dan itu berarti tanpa sadar aku melepaskan tali bendera sehingga Sang Merah Putih yang sudah hampir sampai di puncak itu pun melorot!

Aku tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Komentar sekitar 1200 peserta upacara berdengung seperti ratusan lebah yang berterbangan di telingaku. Rasa malu yang tak terkira seperti berkilo-kilo batu yang membebani kepalaku sehingga hanya bisa menunduk. Debar jantungku pun rasanya seperti drum yang dipukul keras dalam sebuah lagu heavy metal. Entah apa yang terjadi dengan bendera itu aku tak ingat lagi, mungkin temanku yang menaikkannya kembali. Entah bagaimana juga aku bisa kembali lagi ke tempatku setelah pengibaran bendera. Aku tak ingat sedikitpun.Yang aku ingat hanya rasanya saat itu aku ingin menghilang masuk ke perut bumi.

Insiden itu memberiku banyak pelajaran. Bahwa aku harus lebih banyak memperhatikan detil dalam setiap pekerjaan dan kegiatanku. Harus aku buang jauh-jauh rasa gengsi tak jelas yang tak berguna. Terus belajar, berlatih dan mendengarkan saran orang lain tak boleh kulupa. Dan yang terpenting, jangan mudah menertawakan kesalahan atau kekurangan orang lain karena sebetulnya mereka pasti tak sengaja melakukan kesalahan dan tak ingin punya kekurangan.

Setelah kejadian itu, tiap kali teman-teman kerjaku menertawakan petugas upacara atas insiden yang terjadi aku selalu berkata "Jangan ditertawakan, berbuat salah tanpa ditertawakan saja sudah berat. Percayalah, kalau boleh memilih pasti mereka juga tak mau berbuat salah." Kadang aku tambahkan "Atau bahkan mungkin sebetulnya mereka tidak ingin menjadi petugas upacara dengan tanggung jawab seperti itu. Tapi apakah bisa upacara berjalan tanpa petugas? Apa kalian mau?" Sayangnya, ceramah panjang lebarku hanya mendapat cemooh juga dari teman-temanku "Sudah pernah malu seperti mereka yaaa.." *sigh*


SMS yang Membuat Malu

Ditulis oleh Wiwit Wijayanti

Jumat, 01 Juni 2007

Hari itu adalah hari yang sibuk untuk suamiku karena dia dikejar deadline laporan risetnya. Sejak malam sampai pagi dia sudah begadang mengutak-atik data dan menyusun laporan risetnya. Namun laporan belum selesai juga. Ditambah dengan gangguan dari putri kami yang selalu minta perhatian, tak terasa waktu berjalan cepat dan sudah cukup terlambat bagi suamiku untuk berangkat ke kantor. Maka, dengan tergesa suamiku merapikan laptop, buku, flashdisk, dan berkas-berkas yang lain sambil berpesan "Bu, nanti malam Ayah ga pulang ya, nginep di kantor. Harus lembur menyelesaikan laporan ini sama teman-teman."

Malamnya, saat sedang bermain dengan putri kami, aku meliat ada dua buah CD (compact disk) yang tergeletak di meja komputer. Setelah aku liat..ooo..ooo..ternyata CD itu adalah CD data penelitian suamiku. Maka segera aku sms dia "Yah, kayaknya CD ayah ketinggalan deh. Perlu ga untuk malam ini?" Selesai mengetik, SMS langsung aku kirim tanpa aku set menggunakan delivery report (handphone-ku memang sangat tidak canggih, kalau menginginkan delivery report harus di-set setiap kali akan mengirim SMS). Setelah beberapa saat SMS terkirim dan suamiku tidak membalas, maka aku asumsikan CD itu tidak terpakai untuk pekerjaannya malam ini. Ya sudah, aku lalu melanjutkan bermain dengan anakku tanpa memikirkan CD yang tertinggal itu lagi.

Sekitar setengah jam kemudian, handphone-ku berbunyi. Nada panggil spesial dari boss-ku terdengar. "Huuuh!!! Ada apa lagi Pak Boss malam-malam begini masih telepon juga," keluhku. "Nasib sekretaris… Hiks!" Maka segera aku angkat panggilan itu.

"Malam pak," sapaku.
"Malam Wit.. Wit, ini CD siapa yang ketinggalan?" Tanya beliau sambil tertawa.

GUBRAKKKS!!!

"Waduuuh bapak... Maaaaaf saya salah kirim SMS. Seharusnya saya kirim ke suami saya... Aduuuuh...maaf sekali ya pak..." aku meminta maaf dengan serba salah dan menahan malu.
"Hehehe...ga pa-pa.." kata beliau. "Ini tadi saya perlihatkan juga ke istri saya. Ini lho Wiwit salah kirim sms. Istri saya tanya, CD apaan tuh yang ketinggalan???" sambung Pak Boss sambil tertawa terbahak-bahak

Duuuh..seandainya saat itu aku di depan cermin pasti aku bisa melihat wajahku yang coklat ini berubah warna menjadi merah-ungu saking malunya.

Buru-buru aku menjelaskan "Itu CD compact disk pak, isinya data penelitian suami saya yang akan dipakai malam ini nglembur di kantor."
Di seberang sana Pak Boss masih saja tertawa "Hehehe...ya sudah. Sekarang dikirim lagi ke alamat yang benar ya..."


Besok paginya, ternyata Pak Boss belum lupa dengan peristiwa itu. Sesampai di kantor topik SMS nyasar itu masih menjadi bahan guyonan. "CD-nya sudah diambil belum Wit sama suamimu? Kalau CD-nya sampai ketinggalan kan repot.." goda Pak Boss sambil tertawa geli. "Bagaimana sih Wit kok bisa salah kirim. Huruf depan nama saya dan nama suami-mu kan beda jauh?" sambung beliau penasaran.

Duuuuuuh...maluuuu sekali rasanya. Ini semua gara-gara kebiasaanku kalau mengirim SMS ke nomor yang sudah hafal di luar kepala tidak menggunakan bantuan phonebook lagi. Langsung aku ketik nomornya. Saking seringnya SMS-an ke Pak Boss, bahkan lebih sering daripada SMS dengan suami, tidak sadar saat mengetik nomor tujuan aku mengetik nomor beliau. Pasti lah Pak Boss dan istri sempat mengira CD yang aku maksud di dalam SMS itu bukan compact disk tapi CD yang lain. Itu lho, yang berhubungan dengan pakaian dalam. Makanya beliau berdua sangat geli saat membaca SMS-ku.

Masih beruntung di SMS itu aku tidak pakai "sayang-sayang" atau kalimat mesra lainnya. Untung saja Pak Boss dan istrinya sudah mengenalku dengan dekat jadi tidak mengira yang tidak-tidak. Untung saja saat itu lagu SMS belum ngetop sehingga istri boss tidak menyanyi "Bang, SMS siapa itu Bang? Kok bilang ada CD yang ketinggalan.." Fuuuiiih! Untung saja aku masih bisa bersyukur dan bilang untung dalam kondisi penuh rasa malu seperti ini.

Sampai sekarang kalau ingat kejadian itu aku masih malu dan geli. Untung (lagi) saja Pak Boss sepertinya sudah lupa sehingga tidak pernah menyinggung kejadian itu lagi. Atau hanya tak ingin membuat wajahku menjadi ungu lagi ya? Tak tahu lah…


dimuat di Sekolah Kehidupan, Edisi Humor Kehidupan